Monday, October 15, 2018

Mas Bambang Tri,…nyaris dikira “agen” KKB-Timika


Mas Bambang Tri,…nyaris sebagai “agen” KKB-Timika

Saya mengenalnya sebagai “bintara remaja Polri” di penghujung tahun 1998 saat bertugas di Polres Mimika dan selalu memanggil dengan nama depannya “Mas Bambang” saja, sedangkan nama lengkapnya adalah Bambang Triatmoko. Dari data personil yang diperoleh, Bambang dilahirkan dari pasangan F. Srijadi dan M. Warsini pada 21 November 1974.di Giriwondo, Surakarta, Suami dari Enggarika Wijayanti ini memiliki pribadi yang hangat, terbuka, dan mudah bergaul serta ringan tangan (suka menolong). Ayah dari Yudha Wastu B. Eko Putra ini orang yang super supel, sehingga membuatnya sangat mudah diterima oleh masyarakat di tempatnya saat ini bertugas, yaitu Kwamki Narama, Mimika.
Dan kini, setelah terpisah lebih kurang 20an tahun, sebagai agensi pada penugasan “Binmas Noken Polri” ini, saya berkesempatan mengenal lebih dekat pribadi Mas Bambang Triatmoko. Menurutnya, keinginan dan harapannya di awal penempatan tugasnya adalah Polda Metro Jaya. “Kebetulan waktu itu saya mendaftar di Polda Metro Jaya, jadi sangat bermimpi dapat bertugas dekat dengan Monas, tetapi kenyataan hidup ternyata menghendaki lain, karena kebetulan waktu itu penerimaan anggota Polri cukup banyak untuk mengisi Polres-Polres di daerah pemekaran Papua dan juga ternyata pendidikan pembentukan saya bukan di Jakarta atau Bandung, tetapi di Ujung Pandang yaitu SPN (Sekolah Polisi Negara) Batua Raya, Makassar.
Mas Bambang yang memiliki hobi olah raga bulu tangkis ini, pada awalnya terkaget-kaget ketika mengetahui dirinya ditempatkan bertugas di Polda Papua, tepatnya di Kabupaten Mimika. Terdapat stigma pada pikirannya bahwa di Papua masih terdapat suku kanibal. Namun stigma tersebut berangsur hilang karena sesampainya di Timika, dia dan rekan-rekannya langsung ditempatkan atau menginap di Hotel Serayu. Baginya di mana ada penginapan sekelas hotel, berarti bahwa Timika tidaklah seperti yang dipikirkannya.
Terkait jalan kehidupan yang menjadikannya sebagai anggota Polri, Mas Bambang sambil  tersenyum menuturkan, “yang pasti, Tuhan itu punya rencana lain, mungkin kebetulan karena saya orang Kristen dan di Papua itu kebanyakan orang Kristen, sehingga saya didekatkan dengan orang Kristen. Walaupun pada kenyataannya di Papua orang Kristen banyak tetapi perilakunya belum Kristen.” Perilaku belum Kristen yang dimaksudnya adalah bahwa sebagian besar masyarakat Papua yang dikenal secara pribadi, jarang terlihat mengikuti ibadah di gereja tiap hari Minggu. Sebagai seorang anggota polisi, Bambang menilai bahwa secara kualitas tindakan kriminal di Papua khususnya di Mimika masih tinggi, seperti mabuk-mabukan dan tindak kekerasan serta pencurian. Sehingga keputusan Tuhan atas penempatan dirinya bertugas di bumi Papua adalah untuk mengajak masyarakat Papua agar selalu ingat kepada Tuhan dan rajin beribadah. Diyakininya, bahwa dengan ibadah yang kuat akan berdampak pada menurunnya kasus kriminal yang terjadi di masyarakat Papua.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Mas Bambang sudah bisa merasakan berbagai keunikan orang asli Papua. Satu di antara berbagai keunikan yang dimiliki orang asli Papua yang membuatnya lebih senang bergaul dibandingkan dengan warga pendatang terutama dari Jawa adalah rasa kasih dan loyalitas yang tinggi. Hal ini membuatnya “betah” bergaul dan mudah menyatu dengan hati mereka. Kedekatannya berinteraksi dan berbaur dalam membangun komunikasi tanpa batas dengan orang-orang asli Papua tersebut membuatnya “nyaris” dikira sebagai “jaringan atau agen” dari KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata) di Wilayah Timika.
Namun Bambang berpendapat, bahwa dibalik tingkat loyalitas yang tinggi tersebut, juga tersimpan pemicu atas sering terjadinya perang antar suku, khususnya antara suku Dani, Damal, Moni dan Amungme di Timika. Selama bertugas di Kabupaten Mimika, perang suku yang terjadi ini tidak lain disebabkan atas rasa loyalitas yang begitu tinggi pada orang asli Papua. Padahal pemicunya karena masalah pribadi, dan karena orang asli Papua sangat mengutamakan kebersamaan kelompok (koloni atau komunal), tak jarang menyebabkan permasalahan pribadi dijadikan masalah kelompok. “Dalam perilaku orang Papua ini, mereka selalu mengutamakan kebersamaan yang di dalamnya ada kasih, sehingga masalah orang lain pun dijadikan masalah suku,” ungkapnya. Saya sepaham dengan pandangannya, bahwa sebagian besar masyarakat Papua hidup secara komunal (community), khususnya di wilayah pegunungan tengah Papua.
Terkait bergabungnya dengan Satuan Tugas Binmas Noken, pada awalnya sempat terkejut, karena bukan personil Bagian Pembinaan Masyarakat (Binmas) melainkan pada penyediaan logistik berupa penyediaan perbekalan angkutan, sarana, dan pra-sarana (sarpras). Seiring dengan peran dan tugasnya dalam Satgas Binmas Noken pada saat wawancara tanggal 6/7/18, masih mencoba memahami program-programnya, yaitu peternakan ayam, peternakan babi, dan program “Polisi Pi Ajar di Sekolah,” Kini setelah benar-benar memahami, Mas Bambang pun bangga karena turut ambil bagian dalam tugas yang menurutnya sangat mulia tersebut, seperti pemberian edukasi kepada anak-anak korban konflik antarsuku agar mereka yang menjadi korban tidak trauma, juga bertanggung jawab mengawasi proyek Pusat Pelatihan Binmas Noken, berupa pengembangan dan pembiakan babi di Petrosea Dalam, Timika. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri baginya untuk dapat bertindak dan berbuat secara profesional dan bertanggung jawab.
Baginya, pengalaman bertugas di Binmas Noken merupakan pengalaman yang begitu menyenangkan dan membanggakan. Menurutnya, di Binmas Noken bergabung dengan orang-orang hebat dan membuatnva dapat belajar banyak hal sehingga keinginannya untuk “membantu orang-orang Papua mengubah mindset-nya serta cara hidupnya untuk lebih sejahtera dan mandiri” dapat terwujud. Filosofi hidupnya adalah Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan Lan Kemareman, yang dimaknainya sebagai “jangan terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan, kedudukan duniawi.” Sebuah filosofi kehidupan yang membuatnya menjadi pribadi teguh dan komitmen terhadap sebuah pengabdian, kepada negara dan masyarakatnya di Timika, Papua.
Terima kasih Mas Bambang Trimoko, saya begitu bangga bisa belajar menjadi pribadi yang teguh, menyenangkan, ramah dan murah senyum. Semoga Tuhan memberkati kita semua dalam usaha dan upaya menebar kebaikan bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa khususnya di tanah Papua.

DERS, 10/14/18


No comments:

Post a Comment