Monday, October 22, 2018

Babi berjaket di Pagaleme


Babi berjaket di Pagaleme
          Oleh; Eko SUDARTO[1]

Cerita ringan ini berawal di Sabtu sore (20/10/2018) selesai makan siang di “warung barokah” bersama beberapa PerwIra dan anggota Polres Puncak Jaya dan anggota Binmas Noken. Saya memutuskan untuk melaksanakan peninjauan ke beberapa spot ternak Babi di Kabupaten Puncak Jaya. Hal ini menginggat esoknya adalah hari Minggu dan di beberapa wilayah Pegunungan Tengah, hari tersebut ditetapkan sebagai hari ibadah dan libur dari aktivitas perekonomian, seperti perdagangan maupun kegiatan terkait pekerjaan.
Binmas Noken membangun 3 (tiga) spot di wilayah ini. Namun sore itu, karena terus diguyur hujan dan hari sudah menjelang malam, kami merencakanan mengunjungi 2 (dua) spot saja. Peninjauan pada Spot pertama di Kampung Trikora, Mulia dan spot kedua di Kampung Pagaleme. Puncak Jaya merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Wamena yang memiliki curah hujan cukup tinggi. Puncak jaya memiliki medan berlembah-lembah dan ketinggian diantara 500 sampai dengan 2400 meter di atas air laut. Dan yang paling unik adalah landasan bandaranya yang “atraktif” (tidak datar, tapi menanjak ekstrim) dan hanya bisa disinggahi oleh pesawat jenis caravan atau twin otter dengan kapasitas penumpang 12 (dua belas) sampai dengan 15 (lima belas) orang saja.
Dengan beriringan menggunakan 3 (tiga) kendaraan semi truck dinas milik Polres Puncak Jaya, perjalananpun tiba di Spot Peternakan Babi, Kampung Trikora. Dari jarak sekitar 100 meter di pinggir jalan terlihat kandang khas ciptaan Binmas Noken unit pertaniannya Pak Yosep Goran dengan cat berwarna Merah Putih. Seorang Mama nampak membawa ember sedang berada di kandang tersebut. Pastinya sedang memberi makan babi-babi yang baru beberapa hari diterimanya dari Binmas Noken. “Amole, wa wa wa… “, salam khas orang pegunungan, khususnya suku Dani membuka percakapan kami.
Tak ayal, dalam waktu singkat kedatangan kami yang tidak direncanakan tersebut mengundang perhatian warga di sekitar kandang untuk bergabung. Memang adat kehidupan bermasyarakat pada  Suku Pegunungan Tengah secara umum adalah komunal atau hidup berkelompok. Hal tersebut masih melekat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat dewasa ini. Pada hampir setiap kampung di Pegunungan Tengah dipimpin oleh Kepala Suku dan sekaligus Kepala Kampung. Mekanisme penetapan mereka sebagai Kepala Suku ditentukan secara adat atau turun temurun, sementara pemilihan Kepala Kampung berdasarkan kesepakatan dari warga dan Perangkat pemerintahan desa setempat, pada umumnya Kepala Kampung diangkat mereka yang dianggap bisa fasih berbahasa Indonesia dan bisa membaca serta menulis.
Percakapan kami dengan Kepala Suku dan Kepala Kampung serta warga di Spot Peternakan Babi di Kampung Trikora mengalir hangat dan positif. Harapan dan saran ditujukan kepada Binmas Noken untuk terus membantu dan memberikan bimbingan bagi warga dalam beternak Babi. Kesenangan dan kebahagiaan nampak di wajah 2 (dua) orang Mama-mama, karena selain diberi Babi 10 (sepuluh) ekor bagi setiap kelompok warga, juga diberi pelatihan selama 3 (tiga) hari.  “Iyo, Bapak…kita senang dapat pelatihan. Jadi kita tahu cara rawat Wam (Babi) supaya tetap baik dan sehat”, tegasnya.
Sekitar 1 (satu) jam di lokasi peninjauan spot pertama, kami bergeser ke lokasi spot ternak Babi berikutnya di Kampung  Pagaleme. Jarak yang ditempuh dari lokasi Kampung Trikora ke Kampung Pagaleme tak lebih dari 15 (Lima Belas) menit. Tata, anggota Binmas Noken yang membawa kami mengatakan bahwa tidak terlalu sulit untuk menghafal jalan-jalan di Puncak jaya ini. “Kota-nya cuma segaris nanjak saja, Komandan”, Imbuh Achmad yang pernah “nge-pos” sebanyak 4 (empat) kali di Puncak Jaya sebagai anggota Brimob.
Setiba di lokasi Spot ternak Pagaleme yang letaknya lebih tinggi dari Kampung Trikora, saya langsung menuju kandang Babi. Seorang laki-laki setengah tua telah ada disana sedang memberi makan pada babi-babi tersebut. Penasaran melihat sibuknya Bapak itu, yang kemudian diketahui bernama Simon, saya melihat satu-persatu Babi yang dipisahkan dalam kandang yang diberi sekat-sekat. Ukuran kandang Binmas Noken adalah 1,8 Meter X 11 Meter, yang keseluruhannya saat ini berjumlah  27 (dua puluh tujuh) dan tersebar lokasinya di 10 (sepuluh) kabupaten Pegunungan Tengah.
Tak ubahnya seperti pada lokasi pertama, masyarakatpun datang berkumpul di spot ternak Pagaleme. Sambal ngobrol dengan Kepala Kampung, tiba-tiba saya terusik saat, Pak Marthen Luther (Kabag Sumda Polres Puncak Jaya) bertanya pada Bapa Simon. “Bapa,…itu sapa pu jaket baru untuk bikin apa?”, sambal tetap bekerja mengangkat air, Pak Simon dengan cepat menjawab, “Ahhh,…itu jaket sa puna. Kemarin itu Wam mengigil, jadi sa kasih jaket biar hangat”.
Mendengar jawaban spontan Bapak Simon tadi, kami yang berada di lokasi tertawa penuh haru berkecamuk tanya. Namun tidak dengan masyarakat disitu, sebagian besar mereka hanya tersenyum lebar dan wajah senang nampak terpancar. Rasanya tidak ada yang janggal atau salah dengan pikiran dan tindakan Bapak Simon tadi. Saya hanya berfikir, bahwa begitu besar cinta, sayang dan tanggung jawab Pak Simon terhadap Babi-babinya tersebut, sehingga rela menggorbankan jaketnya. Saya melihat dan merasakan logika sederhana Pak Simon dan masyarakat di Puncak Jaya, wow...Aussie friends say, KISS.

---- Selamat bertugas di Puncak Jaya, Adinda Kapolres AKBP Ary Purwanto…”Segayung penuh perjuangan”.



[1] Kasatgas Binmas Noken Polri 2018

Saturday, October 20, 2018

Kapolda Papua; Memahami logika berfikir orang Papua melalui MOP


Kapolda Papua; Memahami logika berfikir orang Papua melalui MOP
Oleh; Eko SUDARTO[1]

Restaurant B-ONE, di Jayapura malam itu  Kamis 18 Oktober 2018, menjadi tempat pertemuan kami (Satgassus Papua) yang ke-2 (dua) kalinya dengan Kapolda Papua, Irjen Pol. Martuani Sormin. Dalam kedua pertemuan tersebut hadir lebih dari 20 (dua puluh) orang yang terdiri dari personil Polda Papua dan Satgassus Papua. Bagi saya, pertemuan itu merupakan yang ketiga kalinya dengan beliau selama menjabat sebagai Kapolda Papua sejak 13 Agustus 2018. Pertemuan sebelumnya, kami terlibat “ngobrol“ dalam suasana santai dengan lebih dari 10 (sepuluh) orang sahabatnya. Berbagi cerita ringan dengan penyampaian santai namun “mendalam” dan menuturkan kisah-kisah inspiratif yang enak disimak serta diselingi gelak tawa lepas menjadi mekanisme yang acap kali mewarnai setiap pertemuan kami. Wow, seorang “senguin” yang humoris.
 Impresif dengan ketiga pertemuan tersebut, dipastikan bahwa beliau seorang dengan pribadi terbuka (open mind) yang peduli. Sebagaimana diceritakan, bahwa dalam suatu kesempatan tugasnya ke Polres Puncak Jaya, dilihatnya seorang anggota jaga melakukan penghormatan namun  tidak sempurna. Dihampirinya anggota tersebut sekaligus mendengarkan masalah yang menjadi penyebabnya. Ternyata penyebabnya adalah luka permanen akibat tembakan. Tak sampai disitu, beliaupun mengganjar anggota tersebut dengan penghargaan yang sepatutnya didapatkan.  Jika tidak open mind dan peduli, tentu beliau bisa saja mengabaikan dan meninggalkannya saja. Kepeduliannya membaur dengan anggota (very much down to earth) inilah yang menarik dan diperlukan dari seorang Pimpinan di tanah Papua.
Dengan pengalaman lapangan dan kecerdasan empiriknya selama bertugas di Papua, menurutnya hal yang harus dilakukan dalam menjaga harmonisasi di Papua adalah dengan memahami logika berfikir orang-orang Papua. Mekanisme “nyata” dilakukannya adalah melalui metode pendampingan secara terus menerus, sabar, pendekatan dari hati, empati dan melalui cerita-cerita MOP (Mulut orang Papua). MOP juga merupakan manifestasi pola piker dan logika-logika sederhana yang dilontarkan orang-orang Papua secara umum.
Diceritakan, bahwa suatu ketika ada korban meninggal terjatuh dari mobil dalam arak-arakan mobil. Mereka menuntut polisi harus bayar denda sebesar 1 (satu) Milyar karena tidak bisa mengamankan jalannya pawai. Maka yang dilakukannya adalah mendatangi jenazah yang disemayamkan di suatu tempat, siap untuk diarak menuju kantor polisi. Arak-arakan membawa jenazah ke suatu tempat atau tujuan, pada umumnya akan mengakibatkan kerusakan sepanjang jalan yang dilewati. Maka sebelum itu terjadi, Kapolda mendatangi persemayaman Jenazah. Dengan penuh khidmat, beliau berdoa secara khusuk dan berlama-lama di depan jenazah. Masyarakat memperhatikan serta menyimak doa-doa Kapolda, akhirnya bisa menerima dan selanjutnya diskusi dari hati ke hati dengan logika mereka, denda adat-pun bisa dinegosiasikan. 
Hal penting dalam memecahkan masalah sosial di Papua adalah mengedepankan hati dan empati, terlepas dari rasa kesal karena orang Papua memiliki perbedaan latar belakang sosial dan budaya yang unik dan beragam. Sebagaimana data hasil Pendataan Potensi Desa (Podes) 2014, Ada sekitar 320 sub-etnis dengan 300-an lebih suku dan bahasa di Papua. Satu kampung bisa terdiri dari beberapa kelompok suku yang menuturkan bahasa yang berbeda dengan suku lain. 
Tidak bermaksud melakukan dikotomi, namun terbangun istilah orang pantai atau orang gunung. Sesama orang pantaipun bisa merasa berbeda. Orang Sorang atau Jayapura tidak mau dianggap sebagai orang malas seperti ada istilah “malas tahu”, bahkan nama malas tahu dipakai untuk menandai sebuah jalan di Kabupaten Manokwari. Sementara sesama orang gunung juga saling membedakan antara satu suku dengan lainnya. Mereka bahkan kadang bilang bahwa suku tertentu cenderung lebih keras dibanding sukunya, atau sering diistilahkan dengan sebutan “kepala batu”.
Tak jarang perang suku terjadi karena perbedaan pandangan antar mereka yang masih hidup secara komunal. Realita perselisihan lain yang sering dijumpai di wilayah-wilayah pegunungan, bahkan di kota-kota besar seperti Timika maupun Wamena adalah istilah “palang jalan”. Selain menghambat pembangunan juga menandakan bahwa logika sederhana masih berfungsi, masyarakat masih ingin didengar aspirasi dan aturan adatnya. Hal ini terjadi karena orang-orang tersebut memakai logika yang berbeda dengan logika orang Jawa maupun orang-orang Indonesia di propinsi lainnya.
Menurut Kapolda, dalam menyikapi dan mengatasi berbagai permasalahan di Papua, kehadiran hukum positif tidak bisa sepenuhnya dipaksakan kepada masyarakat. Tak jarang Kapolda mengunakan logika berfikir orang pegunungan untuk menghadapi complain dan tuntutan denda terhadap anggota Polri. “Kita harus lulus dari Akademi West Point Wamena”, tuturnya menganalogikan. Kehadiran hukum positif di tanah Papua adalah untuk menyertai tersedianya pelayanan publik yang paling dasar, yaitu pendidikan, ekonomi, dan infrastruktur. Untuk memastikan berjalannya produktifitas pembangunan bagi kesejahteraan dan kemajuan Papua sebagai “surga kecil yang jatuh ke bumi”.
Masyarakat Papua bukan hanya tertindas secara fisik saja, namun psikis dan lebih dari itu ke-mandiri-an (Mampu Berdiri Diatas Kaki Sendiri). Mereka mungkin bebas, tapi sulit mengakses pelayanan publik yang mendasar. Fasilitas kesehatan belum menjangkau daerah terpencil. Jika pun tersedia, akses belum tersambung atau bahkan sangat sulit. Hal ini berimbas pada berbagai aspek lain, utamanya masalah perekonomian masyarakat Papua. Misalnya harga kebutuhan pokok di wilayah pegunungan Papua yang sangat mahal. Semen Rp. 2 juta, air mineral hingga Rp. 30 ribu, air mineral 300 mililiter Rp. 20 ribu, beras Rp. 50 ribu, dan lain sebagainya.
Walaupun Presiden telah mencontohkan secara kongkrit perhatiannya kepada Papua, namun tidak semua pembantunya memahami dan mengikutinya. Masyarakat miskin dipaksa membayar mahal untuk kebutuhan dasarnya, sangat mungkin efek-efek kekecewaan akan terus  meletup. Merdeka bukan cuma persoalan ideologi, tapi juga terpenuhi atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar. Papua memang harus MERDEKA. Merdeka dari kebodohan dan kemiskinan yang akut.

-----Turut Berduka cita atas berpulangnya Kakanda tercinta, Bapak Purba Hasiholan Sormin. May he rest in peace. Aamiin-----.


[1] Doktor pada bidang Kajian Ilmu Kepolisian, Kasatgas Binmas Noken Polri-Satgassus Papua 2018. Puncak Jaya, 10/20/2018.

Wednesday, October 17, 2018

Sifat Manusia; ingin mendapatkan kapital lengkap dan sempurna (Renungan dalam menjaga semangat kehidupan dan persahabatan)


Sifat Manusia; ingin mendapatkan kapital lengkap dan sempurna
(Renungan dalam menjaga semangat kehidupan dan persahabatan)

Dalam suasana tidak nyaman yang dirasakan saat ini, saya mencoba merenung dan mencari secercah solusi di relung pemikiran terdalam. Apa sebenarnya hakekat kehidupan manusia? Diusia yang hampir menginjak 50 (lima puluh) tahun ini, saya seharusnya sudah bisa dengan jernih menata ruang pikiran dan hati. Karena di usia yang sudah tidak muda ini, kalau tidak dikatakan cukup matang secara pengalaman dari terpaan pahit manisnya kehidupan yang telah mengajarkan banyak hal. Apa sebenarnya yang masih harus dicari? Berbahagialah bagi yang telah menemukan “pencarian” itu, selagi saya masih memperjuangkannya. Angan saya kemudian menangkap sebersit kata dalam jutaan nomenklatur di computer kepala tentang dinamika kehidupan manusia, yaitu adanya hasrat atau keinginan (willingness) keduniawian.
Hasrat atau keinginan dalam pandangan Maslow tentang teori kebutuhan atau hierarchy of need menurut saya masih terlalu umum dan luas untuk menjelaskan dan membedah isi pikiran sederhana namun mengusik ini. Maka dalam membedah terminology hasrat atau keinginan tersebut, saya ingin fokus pada pandangan Bourdieu melalui konsep capital atau modal.  
Sebelum mengupas tentang konsep capital atau modal, sebaiknya saya memberikan sedikit ilustrasi tentang Bourdieu. Nama lengkapnya adalah Pierre Bourdieu,  dilahirkan pada 1 Agustus 1930 di Denguin, Prancis dan meninggal pada 23 Januari 2002 di Paris, Prancis. Bourdieu dikenal sebagai seorang intelektual publik yang lahir dari pengaruh pemikiran Emile Zola dan Jean-Paul Sartre. Konsep-konsep yang  dikembangkannya sangat berpengaruh di dalam analisis-analisis sosial maupun filsafat di abad ini. beberapa konsepnya adalah habitus, arena, capital, pendidikan, pembedaan (distinction), dominasi simbolik, bahasa,  dan perubahan sosial yang semuanya ditulis dalam Bahasa Perancis.
Kembali kepada konsep capital (modal), Bourdie secara tegas membagi menjadi 4 (empat), yaitu modal budaya (cultural capital), modal ekonomi (capital economy), modal sosial (capital social) dan modal simbolik (symbolic capital). Keempat modal itulah dalam pandangan Bourdieu yang menjadi keinginan manusia untuk dimiliki secara lengkap dan sempurna. Apakah bisa? Tentu saja manusia bisa memiliki ke 4 (empat) modal tersebut. Hanya tergantung prosentase kepemilikannya, ada yang memiliki modal tersebut secara lengkap dan sempurna, ada yang sebagian lengkap dan tidak sempurna dan lain sebagainya. Bagaimana pengertian lengkap dan sempurna? Di poin inilah saya ingin mencontohkan dengan mengurai kegundahan pencapaian modal tersebut.
Secara sederhana perjalanan kehidupan dan karier saya bisa dikalkulasi secara kualitatif bahwa diantara ke 4 (empat) modal tersebut, maka modal budaya dan modal sosial yang saya miliki lebih unggul dibandingkan dengan modal ekonomi dan modal simbolik. Modal budaya terkait ilmu pengetahuan yang diperoleh dan pengalaman, khususnya jika dikaitkan dengan arena berupa interaksi di dunia internasional. Sementara modal sosial terkait dengan kuantitas jaringan (network) maupun persahabatan. Modal sosial lebih tepat dimiliki karena sifat extrovert, mudah bergaul (supel) dalam bersosialisasi. Lalu bagaimana dengan modal ekonomi dan modal simbolik? Saya secara sadar memiliki keduanya, namun tidaklah sekuat modal budaya dan modal sosial. Modal ekonomi yaitu sesuatu yang bersifat finansial (uang, tabungan), kebendaan (rumah, kendaraan, tanah, dll)  dan modal simbolik berkaitan dengan jabatan atau posisi karier.
Dalam uraikan saya diatas, disebutkan bahwa modal budaya dan modal sosial lebih unggul dibandingkan dengan modal ekonomi dan modal simbolik. Lalu, apakah bisa dirubah untuk menjadikan modal ekonomi atau modal simbolik lebih unggul dari modal lainnya? Apapun rencananya, tentu saja bisa menetapkan modal mana yang mau dikumpulkan atau diperkuat. Namun sepenuhnya harus disadari bahwa tidak semua modal tersebut bisa dicapai secara lengkap dan sempurna dalam waktu bersamaan. Apakah ada orang yang berhasil mencapai semua modal itu dengan lengkap dan sempurna? Tentu saja ada dan bisa dilihat contoh tersebut disekeliling, baik atasan atau pimpinan, rekan sekerja atau bahkan bawahan kita. Dan itulah yang dicari semua orang, mendapatkan semua modal secara lengkap dan sempurna atau kuat.
Dari keempat modal tersebut, Bourdieu menyarankan untuk memperkaya dan mengumpulkan modal budaya (pengetahuan dan pengalaman). Menurutnya dengan modal budaya, kita bisa mendapatkan modal lain dengan benar secara etika dan beradab. Walaupun dewasa ini,  dengan modal ekonomi, manusia bisa dengan mudah mengubah (convert) melalui cara membeli modal budaya (membeli ijasah), mengembangkan habitus “bossy” untuk mendapatkan modal sosial bahkan melakukan praktek politik uang untuk mendapatkan modal simbolik. Sementara untuk mendapatkan modal simbolik yang merupakan the highest achievement, orang harus berjuang dan berupaya melalui akumulasi modal yang lain.
Perjalanan kehidupan tidaklah seperti hitungan matematika yang serba pasti, namun tetap melalui sebuah proses berfikir yang kita sering sebut rencana atau planning. Kita bisa saja merumuskan rencana, modal mana yang akan kita perkuat atau kumpulkan. Akumulasi modal sosial yang kuat, ternyata bisa untuk mendapatkan modal ekonomi, modal budaya bahkan modal simbolik. Seperti seorang yang memiliki jaringan kuat, baik pemerintahan, politik, internal maupun eksternal sebuah institusi tiba-tiba memiliki modal simbolik. Maka komentar orang-orang akan mengatakan, “pantas,…karena dia memiliki jaringan yang luas”.
So, bagaimana mekanisme untuk mewujudkan perolehan modal lengkap dan sempurna? Bersahabatlah dengan orang-orang yang memiliki modal (simbolik, ekonomi, sosial dan budaya), maka kita akan mendapatkan the way of life dari mereka. Disitulah mekanismenya, yaitu interaksi yang berulang akan menghasilkan pikiran dan tindakan berulang, karena kita adalah bagaimana pola bergaul dan bersahabat.
Namun suatu persahabatan adalah sesuatu yang sakral dan selalu penuh dengan  misteri, karena persahabatan bukan hitungan matematika dan tidak bisa direncanakan apalagi dengan kepura-puraan. Persahabatan pada titik sejati yang melibatkan hati, perasaan dan pikiran yang tidak bisa diuraikan oleh konsep modal. Persahabatan adalah karunia illahi yang dikuatkan oleh perasaan (vibration) yang tidak bisa dirubah dengan apapun, kecuali atas kehendak sang Khaliq. 

DERS, 10/17/18