Monday, November 19, 2018

Napak Tilas Boven Digoel; Membangkitkan Kembali Jiwa Patriotisme


Napak Tilas Boven Digoel; Membangkitkan Kembali Jiwa Patriotisme
Oleh: Eko SUDARTO[1]

Boven Digoel
"Ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa, tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia ini, itulah juga Tanah Air kita. Di atas segala lapangan tanah air aku hidup, aku gembira. Dan di mana kakiku menginjak bumi Indonesia, di sanalah tumbuh bibit cita-cita yang tersimpan dalam dadaku." (Bung Hatta; 20 Januari 1934)

Syukur dan haru menyertai hati, “terobati sudah”. Setelah memendam obsesi dan keinginan untuk berkunjung ke Boven Digoel, akhirnya harapan dan imian itu terwujud pada Sabtu, 17 November 2018. Turun dari Helicopter Daupin Polri, bersama pimpinan penugasan Brigjen Herry Nahak dan beberapa staf penugasan, saya merasakan “atmosphere” patriotisme di antara bangunan penuh sejarah kelam di masa lalu.
Lebih dari itu, perjalanan ini bukan sekedar perjalanan biasa, namun terasa seperti mengikuti kilas balik perjuangan di masa lalu. Hal ini bukan tanpa alasan, bahwa Boven Digoel bisa menjadi magnit untuk membangkitkan dan menggelorakan kembali jiwa dan semangat patriotisme anak bangsa. Boven Digoel menjadi saksi bisu bagi perjuangan tokoh-tokoh pergerakan nasional, antara lain Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, Sayuti Melik, Marco Kartodikromo, Chalid Salim, Lie Eng Hok, Muchtar Lutfi, dan Ilyas Ya'kub dan para pejuang yang konon jumlahnya mencapai 1.308 orang.
Mungkin bagi sebagian orang Indonesia, nama Boven Digoel terasa asing ditelinga, namun tentu banyak juga yang mendengar nama itu sebagai memori sejarah bangsa ini. Kabupaten Boven Digoel merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Papua, dengan Tanah Merah sebagai Ibu Kotanya. Jumlah penduduknya tidak terlalu padat sekitar 35.376 jiwa dengan luas wilayah sekitar 26.838 km2. Boven Digul, Asmat dan Mappi di bagian selatan, merupakan kabupaten hasil pemekaran dari wilayah administrasi Kabupaten Merauke yang dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002.

Dimensi sejarah Penjara Boven Digoel
Waka Polres beserta beberapa Perwira Polres Boven Digul mengantar dan mencoba memberikan informasi kepada kami.  Kompleks penjara yang bersebelahan dengan Polres Boven Digoel ini dibangun secara bertahap dan sudah ada ketika Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan para tokoh perjuangan lainnya dibuang oleh Belanda pada 1935.
Secara singkat, penjara ini tidak terlalu besar dan mungkin hanya berkisar 2 (dua) hektar tanah. Adapun bangunan terdiri terdiri 5 (lima) gedung yaitu 2 (dua) gedung tahanan yang terdiri dari beberapa sel (kamar tahanan), satu gedung tahanan wanita, satu banguna gedung kamar mandi dan toilet dan satu gedung kantor magistratuur.
Didepan pintu ruangan-ruangan tahanan tersebut terdapat tulisan Belanda, seperti capaciteit 3 kamer-6 sterkte. Mungkin artinya kapasitas kamar tersebut menampung. Juga ada sejenis barak yang tertulis capaciteit 25/40 tergantung besar kecilnya kamar. Ketika berada di suatu ruangan, ditemukan sebuah bangku panjang dan terdapat goresan bertuliskan “M. Hatta’. Konon, di bangku tersebut dikhabarkan Bung Hatta yang tiba di akhir Januari 1935 biasa duduk dan bercengkrama dengan penghuni tahanan lainnya. Ada 2 jenis tahanan, yaitu mereka yang mau bekerja untuk Belanda (werkwillig) dan yang tak bersedia (naturalis). Hatta memilih yang kedua, beliau lebih memilih bekerja sebagai penulis di beberapa harian waktu itu. Walaupun tidak memperoleh uang sama sekali dan hanya mendapat jatah pangan yang pas-pasan dengan jatah beras, ikan asin, teh, kacang hijau, dan minyak kelapa, beliau tetap tegar menjalaninya. Saya sempatkan duduk di bangku itu dan mencoba menikmati bayangan masa silam dimana Sang Proklamator masih menjalani masa pengasingannya sambil menuangkan gagasan-gagasannya. Sebuah fantasi kehidupan luar biasa yang saya peroleh.
Boven Digul merupakan horror. Digoel tercatat dalam sejarah sebagai tempat terisolasi di tengah lebatnya hutan belantara Papua. Terkenal dengan alamnya demikian keras, selain banyak dihuni buaya, dengan suhu udara panas dan hutan lebat. Tempat itu dikepung hutan rimba nan lebat yang jauh dari manapun. Makin mencekam karena bermukim dan bersarangnya nyamuk malaria tropikana yang masif dan ganas mematikan. Jika tahanan mau kabur, pilihan terbaik adalah Kepulauan Thursday, Australia. Mereka harus menempuh hampir 500 (lima ratus) kilometer sepanjang Sungai Digul yang penuh buaya, lalu menyeberangi Selat Torres dan hampir dipastikan menemui ajal dalam pelarian.
Dalam Ensiklopedi Nasional Indonesia, Boven Digoel disiapkan secara tergesa-gesa oleh Pemerintah Hindia Belanda. Melalui perintah Gubernur Jenderal de Graeff pada 16 Maret 1927. Boven Digoel dibangun untuk menampung tawanan pemberontakan November PKI pada tahun 1926. Kondisi penjara yang sangat tidak bersahabat dan digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mematahkan perlawanan kaum pergerakan yang dianggap memiliki kekuatan pengaruh yang tinggi.

Situs yang terabaikan
Dalam banyak literatur, kita akan selalu mengenang Bung Karno kata-kata sakti Sang Proklamator pada Hari Ulang Tahun Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” atau disingkat "Jasmerah". Juga pesan-pesan patriotisme terkenal lainnya, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri.” Nampak bahwa Bung Karno memiliki visi jauh ke depan tentang nilai yang sangat penting dan berharga sebuah sejarah bagi kehidupan masa depan bangsa ini.
Penjara Boven Digoel hendaknya jangan pernah terlupakan sebagai bagian dari sejarah perjuangan dan perjalanan bangsa ini. Walaupun saat ini di Boven Digoel hanya terdapat bekas bangunan penjara (kamp konsentrasi atau kamp interniran) zaman Belanda, namun perlu dirawat dengan baik. Menurut sejarawan Anhar Gonggong, Boven Digoel merupakan kamp konsentrasi pertama yang dibuat kaum kolonial. Kelompok pertama yang dibawa ke sana adalah kaum pemberontak Partai Komunis Indonesia tahun 1927.
Melihat kondisi bangunan peninggalan sejarah di Boven Digoel, sepertinya kita harus lebih mencintai mereka (para pahlawan) yang sudah berjuang berkorban nyawa.Tidak seperti di Jakarta, Jogjakarta atau mungkin kota lainnya yang pernah menjadi tempat pengasingan para pahlawan. Situs atau peninggalan sejarahnya masih terawat dengan baik serta dilestarikan. Boven Digoel masih jauh dari itu. Mungkin perlu penyadaran bersama, bahwa situs-situs peninggalan sejarah atau sejenisnya adalah arena belajar sejarah yang tepat bagi anak-anak bangsa. Bukan sekedar tempat mengenang masa lalu perjuangan pahlawan, namun menjadi tempat yang patut dikenang karena memiliki nilai, jiwa dan semangat patriotisme sebagai pejuang kehidupan.
Keberadaan patung Bung Hatta yang dibangun pada 13 April 2015 terletak berdekatan dengan Polres Boven Digoel mungkin menjadikan situs ini aman dari tangan-tangan jahil dan tidak bertanggung jawab. Tugas Pemerintah dan kita semua yang terpenting berikutnya adalah memastikan nilai sejarah penjara yang ditanamkan sang founding father bangsa ini tetap bersemayam dengan bangunan tersebut. Memberikan pemahaman agar anak cucu bisa memaknai perjuangan melalui perawatan dan pengembangan situs tersebut.

Potensi pariwisata sejarah
Upaya Bupati Boven Digoel, Bapak Benediktus Tambonop untuk menjaga dan menyadarkan potensi wisata sejarah patut diapresiasi dan didukung. Kebijakan pemerintah Pusat dan daerah mendukung sinergitas antar stake holder dan counterpart perlu dipacu untuk peningkatan implementasinya. Meskipun nilai ekonomis dan matematis secara kuantitas pengunjung ke cagar budaya tersebut kecil, namun kualitas ketertarikan dan keterikatan pada sejarah Penjara Boven Digoel patut dipelihara bagi pecinta sejarah dan generasi muda bangsa.
Tarif transportasi masyarakat dari Merauke-Boven Digoel untuk sekali jalan berkisar Rp 700.000,- perorang dengan menempuh jarak sekitar 410 (empat ratus sepuluh) kilometer dengan medan tempuh yang penuh perjuangan. Jauh dari fasilitas jalan seperti di Pulau Jawa tentunya. Pesawat bisa jadi alternatif. Namun, tarifnya Rp 1 juta per orang untuk menempuh rute Merauke-Boven Digoel selama sekitar satu jam. Asalkan, cuaca memungkinkan pesawat menerbangi rute tersebut.
Walaupun kota Boven Digoel agak terisolasi dan tidak seramai kota seperti Sentani atau Timika, namun pembangunan berjalan dan memiliki keindahan alam yang tak kalah memukau. Potensi pariwisatanya pernah dipamerkan pada ajang Papua Week di Floriade Expo-2012 di Venlo, Belanda. Para wisatawan juga dapat menikmati keindahan dan eksotisme burung cendrawasih kaisar (Paradisaea guilielmi) dan Rumah Pohon milik Suku Korowai. Suku ini baru ditemukan keberadaannya sekitar 30 (tiga puluh)  tahun lalu di pedalaman Papua. Suku terasing ini hingga sekarang masih ada dan hidup di rumah yang dibangun di atas pohon yang disebut rumah tinggi. Tujuan Suku Korowai membangun rumah tinggi adalah untuk menghindari serangan binatang buas dan suku lainnya. Pada kesempatan tersebut saya menyempatkan diri untuk naik ke rumah pohon milik keluarga Bapak Pangrasius Liwop yang tingginya mencapai hampir 25 (dua puluh lima) meter. That's so amazing.
Sejarah telah banyak membuktikan, bahwa kegigihan Bung Hatta dan para pejuang yang tinggal di Boven Digoel bisa menjadi bekal penting untuk membangun kesadaran bahwa Indonesia ini dibangun oleh orang-orang yang bersedia menderita. Brigjen Herry Nahak menyampaikan bahwa Kapolri, Jenderal Tito Karnavian selalu mengingatkan akan hal senada. "Pemimpin Polri yang tangguh tercipta dari tempaan di tempat-tempat kotor dan becek. Bukan dengan segala macam fasilitas dan kemudahan.” (…DERS…)




[1] Kasatgas Binmas Noken Polri 2018, 20 November 2018.

Seleksi Personil Polri Dalam Penugasan Belajar Di Luar Negeri (Model “Struktur” Pengembangan Kapasitas Agen)


Seleksi Personil Polri Dalam Penugasan Belajar Di Luar Negeri
(Model “Struktur” Pengembangan Kapasitas Agen)
Oleh: Eko SUDARTO[1]

Tulisan singkat ini ingin menunjukkan sebuah contoh tentang “struktur “ dalam pengembangan kapasitas (capacity building) di Negara Amerika Serikat, khususnya yang dimiliki oleh angkatan laut (Marinir), yang bernama NAVSCIATTS. Pengembangan kapasitas dari berbagai perspektif merupakan upaya peningkatan kemampuan, baik bidang sumber daya manusia (SDM), organisasi, strategi maupun doktrin. NAVSCIATTS merupakan salah satu pusat pendidikan Angkatan Laut Amerika Serikat, khususnya pasukan elit Navy Seal dimana di lembaga ini ditanamkan nilai-nilai dan norma-norma kesatria serta kebanggaannya.  
Uraian singkat ini membahas tentang hal ikhwal struktur tersebut dalam kaitannya bagi pengembangan bagi agen internasional Polri. Keterlibatan Polri dalam program yang “baru” pertama kali diikuti ini merupakan inisiasi dari Office of Defence Cooperation (ODC)[2], Jakarta. Sebuah struktur baru bagi Polri, karena selama ini pengembangan kapasitas internasional bagi agen-agen Polri yang berafiliasi ke Amerika biasanya dilakukan melalui wadah kerjasama yang diinisiasi oleh International Criminal Investigative Training Assistance Program (ICITAP,) Jakarta maupun International Organization for Migration (IOM).

ODC (Office of Defense Cooperation)
Dalam kesempatan melakukan riset pada penelitian tentang “international policing” ini saya mendapatkan kesempatan dan manfaatkannya untuk mengikuti sebuah program pelatihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Amerika melalui ODC (Office of Defense Cooperation) di Jakarta untuk mengikuti kursus SLIC (Strategic Leader International Course) di Amerika Serikat. Sebuah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan tentu saja, sebagaiman adagium bahwa, “…jika kita bisa meneliti langsung ke sumbernya (on the spot), maka selain kita melihat langsung dan merasakannya, juga bisa memahami karakter sebenarnya suatu fenomena sosial langsung dari sumbernya (aktor-aktornya atau agen-agennya) melalui proses interaksi, yaitu komunikasi, tukar pikiran, maupun gerak-gerakan tubuh (gestures) serta dinamika masyarakatnya”. Tentu demikian halnya dengan apa yang ingin diperoleh dari penelitian ini, walaupun tidak langsung tertuju kepada materi tentang “international policing”, namun patut dipahami bahwa sumber acuan tentang konsep teori tersebut datangnya adalah dari Amerika Serikat, maka tanpa banyak pertimbangan, saya mengambil peluang tersebut.
Kantor ODC merupakan sebuah “struktur” bagian dari Kedutaan Amerika Serikat yang ada di seluruh dunia, salah satunya di Jakarta, yang dibentuk untuk membantu pengembangan kapasitas bagi anggota (agen maupun aktor) militer Indonesia. ODC pada umumnya menyiapkan dan menyeleksi para agen sebelum berangkat ke Amerika atau tempat-tempat pendidikan milik Amerika lainnya melalui mekanisme yang sudah tertata dengan baik secara administrasi maupun operasionalisasinya. Program yang ditawarkan dan diberikan kepada para anggota TNI-Indonesia, ternyata beragam dan bervariasi. Selain menyiapkan berbagai kursus yang sifatnya singkat, juga memberikan peluang bagi pendidikan pengembangan karier (Komando atau Pendidikan Fokasi)  maupun pendidikan akademi (dari tingkat sarjana S1, Master program hingga program Doktoral)[3].
Kini ODC memberi peluang bagi Polri (agen-agennya) untuk mengembangkan pengetahuan dan pengalamannya melalui berbagai program yang ditawarkan tersebut. Tentu saja kejelian dan visi dari seorang aktor internasional Polri, dalam hal ini Krisna Murti (selaku Kabag Bangtas dan kini Karo Misinter.red) patut diapresiasi, karena untuk membangun struktur kerjasama pengembangan kapasitas baru, selain perlu keberanian, juga tidaklah mudah dan perlu pengalaman internasional yang memadai serta harus  keluar dari dinamika kebiasaan (out of the box). Personil Polri yang diseleksi dituntut memiliki kapasitas lebih, karena dihadapkan pada berbagai tuntutan akan eksistensi kapital perorangan (khususnya kemampuan Bahasa asing) dan juga dihadapkan pada kebudayaan yang berbeda (makanan, perilaku, norma, dan lain-lain).
Dalam referensi saya, beberapa agen (Perwira Polri) yang dikirim melalui program ODC ini adalah KBP Sulistyo Pudjo, KBP Andi Rian Djayadi, KBP Ahmad Kartiko, AKBP Julia Arman, Kompol Ahrie Sonta, dan kami saat ini (Saya dan AKBP Nurul Huda). Tentu saja diharapkan masih banyak program ODC yang diminati oleh agen-agen Polri lainnya, sehingga akan menambah kualitas agen dan membangun struktur baru dalam pengembangan kapasitas internasional bagi Polri.

NAVSCIATTS (the Naval Small Craft Instruction and Technical Training School's )
Pada proses awalnya, agen-agen dinyatakan memenuhi persyaratan yang diselenggarakan oleh OCD setelah dinyatakan “lulus” dengan kriteria mengikuti seleksi tertulis, yaitu sejenis TOEIC (Test of English for International Communication) dengan standar nilai 80 (delapan puluh). Berbagai persyaratan administrasi  lainnya merupakan prosedur protokoler yang disiapkan oleh ODC dan Polri  yang harus disiapkan oleh para agen hingga mekanisme keberangkatan. Pada kesempatan pembekalan sebelum keberangkatan (pre-departing briefing) tersebut juga para agen sudah tahu tentang program yang akan dijalani. Seperti progam ini misalnya, yaitu SLIC (Strategic Leader International Course), juga alokasi program (jangka waktu)yang masing-masing berbeda. SLIC merupakan program perluasan stakeholder kerjasama (cooperation) dan pengembangan jaringan (networking) yang berlangsung 1 bulan.
 Dalam program SLIC kali ini, delegasi Indonesia (TNI-Polri) merupakan pengiriman pertama kali, yaitu 5 perwira yang terdiri dari 2 orang TNI-AD (1 dari Mabes TNI dan 1 dari Bakamla), 1 dari Mabes TNI-AU dan 2 dari Mabes Polri. Sementara negara lain yang tergabung adalah Malaysia (4 orang), Philipina (6 orang), Thailand (4 orang), Bangladesh (1 orang) dan dari Pakistan (2 orang). Sehingga keseluruhan peserta SLIC tahun 2017 ini berjumlah 22 orang.
Adapun lokasi pelaksanaan kursus dilaksanakan dilakukan di NAVSCIATTS (the Naval Small Craft Instruction and Technical Training School’s) yang terletak di the John C. Stennis Space Center di Mississippi, New Orleans. Lembaga ini memiliki tugas  melatih dan mendidik Pasukan Operasi Khusus Asing (Foreign Special Operations Forces), pasukan SOF (Special Operations Forces) dan pembuat SOF melintasi spektrum taktis, operasional dan strategis melalui kursus dalam negeri (in-residence) dan Tim Instruksi kursus bergerak (Mobile Training Team Courses of Instruction). Dari penjelasan pengantar yang diberikan oleh Penanggung Jawab sekaligus instruktur tetap kursus, Mr. Gus (Robert Gusentine, mantan US Navy Seal), bahwa sudah lebih dari 11.500 siswa yang berasal dari lebih 100  negara mitra telah lulus dari pelatihan Naval Special Warfare ini sejak 1963.
Kursus-kursus yang dilakukan di NAVSCIATTS ini meliputi berbagai kursus, diantaranya tentang masalah operasi, perbaikan, pelestarian kerajinan tangan/ketrampilan (baik sungai dan pesisir), komunikasi, senjata, taktik unit kecil, keamanan jarak jauh, operasi fusi-intel serta pengembangan instruktur Mitra Bangsa (territorial) untuk semua hal yang disebutkan di atas. Sementara dari namanya, "angkatan laut" dan "kerajinan kecil" (ketrampilan/keahlian), lebih dari separuh perkuliahan saat ini menyangkut masalah keamanan global.
Selain itu, NAVSCIATTS memiliki instruktur dan dosen pengajar dengan kemampuan untuk memenuhi persyaratan yang muncul dari tuntutan para komandan operasional di lapangan. Keterlibatan para pelatih di NAVSCIATTS adalah untuk membantu mengembangkan, membentuk dan memelihara hubungan strategis jangka panjang selama beberapa dekade dan melindungi investasi Amerika Serikat dan Negara Mitra utama.
Metodologi pelatihan di NAVSCIATTS juga untuk mengembangkan Kapasitas Bangsa Mitra (counterpart negara) dan juga "Melatih Pelatih" (Trained the Trainer) dengan menggunakan kombinasi keterlibatan tim baik dari dalam dan luar negeri. Keterlibatan tim pelatihan mobile digunakan sebagai tindak lanjut untuk pelatihan in-resident dan memanfaatkan pelatih Mitra Pelatih NAVSCIATTS sebagai kaderisasi Instruktur. Ini memberi kemampuan bagi pelatih Mitra Bangsa kita untuk membangun kredibilitas sebagai Ahli Materi Pelajaran dan memungkinkan NAVSCIATTS untuk menerima, membangun dan melakukan  kritik serta berbagai pelatihan berikutnya.
Pada sebuah kesempatan Gus (Robert Gusentin) mengajak para peserta SLIC untuk meninjau beberapa program pelatihan yang sedang  dilakukan di NAVSCIATTS. Diantaranya adalah pelatihan yang diberikan untuk “para pelatih” (train to trainers), pelatihan untuk para operator (komunikasi) dan pelatihan Perwira Komando operasional (lapangan). Peserta pelatihan pada umumnya dari berbagai negara di dunia, namun kali ini peserta didatangkan dari Amerika Latin. Para pelatihnya menggunakan bermacam-macam Bahasa pengantar. Kebetulan pada saat kami melakukan peninjauan, instrukturnya ada yang berbahasa Inggris dan Portugal (Mengingat kebanyakan negara Amerika Latin merupakan bekas jajahan Portugal). Penggunaan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pengantar dikhususkan untuk kelas Internasional.
Salah satu manfaat utama pelatihan yang dilakukan dengan NAVSCIATTS adalah membangun hubungan (network). Membangun komunikasi dengan para alumni dengan staf terkait masalah profesional, seperti teknologi yang berkembang atau menyajikan kesempatan pelatihan. Kemampuan untuk menyediakan pelatihan lintas mata kuliah juga memberikan kesempatan pelatihan yang tak ternilai dalam pembentukan hubungan (jaringan / network). Pelatihan in-resident memberi kesempatan kepada siswa untuk menjalin jaringan dan bersosialisasi dengan profesional Security Force lainnya dari seluruh dunia. Hal ini tentu saja disamping menawarkan kemampuan untuk membentuk ikatan profesional dan pribadi yang menjangkau seluruh samudera dan benua, juga NAVSCIATTS akan terus membantu membentuk jaringan dalam kerjasama memerangi terorisme (counter terrorism), counternarcotic dan counter human trafficking di lingkungan global.

Seleksi Personil Polri untuk pengembangan kapasitas ke luar negeri
Secara umum berbagai proses seleksi yang dilakukan, patut dipertimbangkan bahwa  untuk mengikuti penugasan internasional khususnya pengembangan kapasitas, maka diperlukan agen-agen Polri yang memiliki kapasitas dengan latar belakang sesuai dengan alam praktek, tugas pekerjaan dan memahami kebudayaan dari negara dimana pelatihan dilaksanakan. Struktur, dalam hal ini bidang pengembangan kapasitas (Bangtas) atau Sumber Daya Manusia (SDM) Polri, perlu mempersiapkan dengan berbagai penjelasan tentang pelaksanaan penugasan pelatihan tersebut secara rinci dan lengkap. Penjelasan harus termasuk juga tanggung jawab selama penugasan, termasuk kemampuan bernegosiasi dengan para instruktur dan peserta dari negara lain, etika kerja yang berlaku secara internasional dan berbagai reaksi terhadap etika, moral dan masalah personal, seperti masalah keyakinan beragama (belief), kebebasan individu dan lain sebagainya. Sebagian besar dari kompetensi ini dapat dikategorikan baik sebagai kemampuan terhadap penyesuaian kebudayaan maupun keterampilan berkomunikasi.
Beberapa hal positif dan keuntungan yang bisa diperoleh dengan memiliki pengalaman belajar di luar negeri antara lain; meningkatkan kemampuan akademis, meningkatkan kemampuan berbahasa asing, mengerti budaya baru, Menambah karakter intelektual, kemampuan Inisiatif dan kemandirian. Bertemu dengan orang baru, tempat baru, dan ide baru disamping menuntut kemandirian untuk mampu menunjukkan jati diri sebagai pribadi maupun duta bangsa, juga menghasilkan berbagai keuntungan ditinjau dari berbagai sisi yaitu sebagai berikut:
a.     Ilmu pengetahuan, maka belajar di luar negeri akan menggali langsung dari referensi induknya dengan bahasa asli penulisnya. Hal ini setidaknya akan membuka peluang untuk memperdalam orisinalitas ilmu dan ketajamannya. Dengan mengembangkan kapasitas  di luar negeri kita bisa mendapatkan banyak buku referensi yang belum tentu ada di negeri kita. Begitu pula dengan jurnal-jurnal terbaru untuk mengembangkan ilmu yang tidak kita dapatkan pada perpustakaan di tanah air.
b.     Rujukan sumber ilmu selain referensi juga para dosen atau bahkan penulis buku-bukunya langsung, kita memiliki peluang-peluang untuk langsung berdiskusi, tanya jawab bahkan berguru langsung  pada ilmuwan kelas dunia secara lebih terbuka yang tentu sangat jarang ditemukan di dalam negeri.
c.      Segi pengembangan ilmu, pengembangan kapasitas di luar negeri menyediakan banyak sekali diadakan seminar keilmuan, kajian dan diskusi yang umumnya gratis (free facilities). Sementara di negeri kita umumnya sebuah seminar keilmuan atau apapun seringakali memasang tariff dan hasilnya berhenti di seminar itu saja.
d.     Kemampuan Bahasa asing, maka dengan mengikuti pengembangan kapasitas di luar negeri kita mempunyai peluang yang sangat besar untuk mengasah bahasa asing kita. Di Barat dengan bahasa Inggris, Jerman atau Perancis, di Timur Tengah dengan bahasa Arabnya  di China dengan Bahasa Mandarin. Hal ini tentu saja sangat membantu dalam perkembangan kapasitas keilmuan selanjutnya. Tidak perlu bersusah-susah mengikuti berbagai kursus Bahasa asing, secara otomatis dengan tinggal di luar negeri kita bisa mempraktekkan bahasa asing secara langsung.
e.     Pengembangan jaringan, bahwa dengan mengikuti pengembangan kapasitas di luar negeri maka selain mempunyai pengetahuan dan pengalaman internasional, juga secara otomatis akan memiliki aset lain berupa jaringan (network). Mungkin dengan sesama warna negara lainnya dan tentu saja dengan peserta dari negara lain. Dalam berbagai kesempatan hal itu dialami oleh banyak orang, bertemu dengan sahabat baru dari negeri sendiri dan menjadi jaringan yang menguatkan rasa kebersamaan hingga persaudaraan. Perasaan senasib sepenanggungan tersebut bisa berbuah jaringan yang kuat di tanah air.
f.       Konsentrasi belajar, semestinya lebih mendukung. Ia tidak perlu lagi disibukkan dengan masalah keluarga, masyarakat atau berita-berita mengkhawatirkan yang terjadi di tanah air. Bukan bermaksud apatis, bahwa dewasa ini kemajuan media sosial sangat menguras energi pikiran dan konsentrasi manusia di belahan dunia manapun. Dengan mengikuti suatu program pelatiha di luar negeri, kita dituntut untuk selalu tampil prima, jika tidak kita akan memalukan diri sendiri dan bangsa di ajang pelatihan internasional tersebut.
g.      Finansial, jelas bagi personil Polri bahwa mengikuti pelatihan di luar negeri selain didukung oleh anggaran dinas berupa “uang perjalanan dinas” (Jaldis), beberapa program sponsor selain menanggung berbagai biaya perjalanan (transpormasi, seperti pesawat dan kendaraan lokal), juga menanggung akomodasi dan bahkan memberikan uang saku selama pelatihan dengan besaran yang berbeda. Namun dari semua hal tersebut, keuntungan yang diperoleh dari semua sisi diatas tidak bisa digantikan dengan nominal finansial.

Manfaat dan pembelajaran
          Banyak manfaat dan pelajaran yang diperoleh dari pengiriman agen-agen Polri untuk mengikuti kursus-kursus internasional seperti ini, baik manfaat bagi agen pribadi maupun struktur Polri secara umum. Walaupun pada kursus yang diselenggarakan oleh NAVSCIATT ini tidak secara khusus membahas masalah-masalah kriminalitas internasional dan penanganannya secara hukum internasional (international legal law), namun pada akhirnya diperoleh suatu kesimpulan bahwa pentingnya kerjasama antar semua elemen keamanan akan sangat membantu terwujudnya keamanan negara secara global.
Kehadiran agen-agen kepolisian (Polri) dalam pelatihan di NAVSCIATT merupakan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat untuk membangun jaringan antara militer dan kepolisian (military and police) di masa-masa mendatang. Sementara bagi Polri, program pelatihan NAVSCIATT merupakan model kerjasama pengembangan kapasitas lintas sektoral yang harus dilakukan sebagai suatu bentuk sinergitas antar institusi keamanan.










[1] Analis Kebijakan Madya, Set.NCB Interpol Indonesia
[2] Kantor Kedutaan Besar Amerika Serikat ini terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 5, Jakarta. (10110)
[3] Diskusi dengan Kolonel TNI (Kav) Yudi Yulistiyanto